Hai temanku,
hari ini aku bertemu dengan seorang Ibu dan dalam perjalanan bersama anak perempuannya, kami terlibat percakapan. Awalnya aku sempat bertanya mengapa mata anak perempuannya itu sembab? Jawab Ibu tersebut adalah anaknya baru menangis karena mendapat nilai yang kurang baik. Saat itu aku teringat arahan seorang biarawati yang mengatakan "jangan pernah berkata semangat kepada orang yang sedang mengalami kegagalan, karena itu bentuk kekerasan dalam berkomunikasi." Saat itu aku spontan menghela nafas panjang dan berkata kepada adik kecil itu bahwa aku pun pernah mengalami hal serupa dengannya. Tak lama kulihat wajahnya menatapku sambil bertanya, "emangnya Om dapat nilai berapa?" Kemudian aku bilang kepadanya "yakin nih kamu mau tahu?" Jawab adik itu antusias ingin mengetahuinya. Lalu langsung kutimpali bahwa ada syaratnya. Dia pun bertanya "apa syaratnya Om?" Syaratnya adalah "minum dulu, tarik nafas panjang dan tersenyum" dan adik itu pun mengangguk tanda setuju.
Berikut kisahku.
Waktu itu aku masih menempuh kuliah di salah satu universitas di Bandung dan saat itu memasuki tahun ke 4 tepatnya semester 7. Awal Desember tahun itu diisi dengan Ujian Akhir Semester (UAS) dan aku pun sudah belajar sesuai dengan catatan dan arahan yang diajarkan oleh dosenku. UAS yang dinanti akhirnya tiba dan dengan rasa percaya diri yang tinggi, aku yakin jika nilaiku pasti akan mendapat nilai sempurna alias A. Ketika aku mengerjakan soal UAS, dugaanku benar bahwa semua soal sudah pernah diajarkan dan aku yakin sekali lagi bahwa aku akan dapat nilai A. Waktu ujian saat itu 2 jam dan saat itu Bandung sedang dingin-dinginnya karena sering terjadi hujan es sesuai dengan ramalan cuaca dari BMKG yang selalu tepat saat itu. Sepulang mengikuti UAS, aku bertemu dengan seorang seniorku di kampus dan dalam obrolan kusampaikan bahwa aku baru mengikuti UAS tentang mata kuliah yang diajar oleh Mr L. Seniorku saat itu bertanya begini "bro, jawaban lu harus beda sama apa yang diajarkan Mr L kalau mau lulus." Kalimat itu sontak membuatku terkejut seperti kena pukulan dikepala sampai benjut. Tanpa panjang lebar, akupun bertanya "emangnya kenapa?" Seniorku berkata "wah nanti lu tahu sendiri deh, siap mental aja dari sekarang kalau jawaban lu sama dengan yang diajarkan Mr L."
Malam itu aku tidak bisa tidur dan saat itu aku kena mental. Mr L ini terkenal dengan dosen yang sangat disiplin dan hanya dalam waktu 3 hari, beliau sudah mengumumkan hasil ujian dan benar bahwa nilaiku adalah E dengan catatan kecil "sarjana fotocopy." Darah mudaku langsung saja memanas tanda hot button dalam diriku terpencet. Aku langsung memutuskan untuk bertemu dengan Mr L untuk menanyakan kejanggalan yang terjadi dan ketika aku beserta teman-temanku korban nilai E menghadap ke kantornya, beliau langsung bilang bahwa "jika kalian menjawab pertanyaan hanya sesuai yang diajarkan maka kalian tidak kreatif, Bapak butuh jawaban lain dari pemikiran-pemikiran hebat dari otak kalian." Aku dan teman-temanku hanya lemas dan layu sebelum berkembang diakhiri dengan kata "tolong kami Pak agar tidak mengulang." Jawab Mr L kala itu adalah "pulanglah kalian dan ambilah waktu untuk menerima kenyataan agar bisa bangkit kembali menjadi pribadi yang bisa merubah E menjadi A dengan caramu yang Bapak yakin lebih baik dari cara Bapak." Kami pun hanya mengangguk dan pulang dalam diam dan memantapkan hati agar tetap tentram.
Kalimat terakhir Mr L ini kujadikan masukan untuk adik itu bahwa setiap orang pernah mengalami kegagalan dan seringkali itu menjadi hal yang baik untuk dialami agar kita bisa bangkit yang diawali dari penerimaan akan kegagalan supaya ke depan dapat lebih baik lagi.
Selamat berproses temanku, kalian pasti bisa. Salam padmana-hati yang gembira.
Hai temanku,
beberapa waktu terakhir, aku dipertemukan dengan kondisi yang berlawanan dengan akal sehatku. Kondisi pertama adalah ketika aku berhadapan dengan seseorang yang senang dengan polesan wajah dan lupa tentang polesan dari dalam diri (inner beauty). Dia seolah lupa bahwa polesan wajah itu sifatnya sementara, sekilas nampak cantik dan dalam waktu sangat singkat dapat memukau semua orang tetapi semua itu hanya sesaat tidak bertahan lama. Sementara polesan dari dalam diri, mengingatkanku tentang peribahasa klasik "sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit," yang disampaikan Guruku saat aku masih belajar di Sekolah Dasar. Jika hal itu dilakukan secara benar dan terus menerus maka akan membawa dampak yang luar biasa tanpa harus berkoar-koar untuk menunjukkan perubahan yang terjadi, semuanya akan bersinar secara wajar alami dan bertahan lama.
Kondisi kedua, akal sehatku dibenturkan dengan kejadian dimana seseorang ini suka berbicara esuk dele sore tempe atau dalam bahasa Indonesia berarti "pagi bicara kedelai, sorenya bicara tempe," alias plin plan. Berita buruknya, orang tersebut adalah kategori orang yang untouchable atau tidak bisa disentuh sebut saja Mrs U. Apa pun yang dikatakan olehnya, mau dele atau tempe bagi dia adalah benar dan silat lidahnya seolah tak terbantahkan. Peristiwanya mirip dengan pengendara motor yang memberi tanda lampu sein ke kiri di awal tetapi tiba-tiba belok ke kanan ketika mengingat sesuatu. Permasalahannya adalah ketika terjadi tabrakan justru mulut dan satu jarinya langsung menunjuk pihak lain yang bersalah ditambah dengan kata berbalut playing victim.
Kondisi ketiga dan berikutnya akan aku ceritakan lain waktu ya. Aku hanya ingin bersyukur bahwa dari kedua kondisi ini, aku belajar untuk tetap menggunakan akal sehatku dengan menyadari, tetap berdoa agar aku tetap bisa meniatkan seluruh hal baik agar aku tetap menjadi manusia yang berakal sehat secara wajar alami. Selamat berproses temanku, kalian pasti bisa. Salam padmana-hati yang gembira.
Hai temanku,
perjalanan panjang akan kumulai kembali dari titik nol dimana aku mengawalinya dengan merelakan terhadap segala hal yang pernah kuraih sebelumnya, ada yang berhasil dan ada pula yang gagal. Awalnya aku merasa berat melepas semuanya dan memulai kembali rasanya malas sekali. Sebagai seorang yang pernah memiliki pengalaman, aku tidak lepas dari rasa lekat dan telah kuputuskan untuk legowo. Ibarat seperti orang bernafas, pasti ada saatnya melepas, ada saatnya menarik sehingga dia akan terus hidup.
Suatu hari aku bertemu dengan seseorang dimana dia selalu merasa paling pintar atau istilah dalam bahasa Jawa adalah yak yak o. Semua ide yang keluar bukan dari mulutnya selalu dijatuhkan dengan kalimat saya itu dulu mencoba cara itu dan gagal, untuk urusan yang itu, kita pasti kalah. Sekali, dua kali sampai berkali-kali kudengar kok orang ini makin menjadi, seolah kami adalah manusia bodoh yang gampang dicekoki informasi sepihak.
Awalnya aku mulai tidak nyaman dan perlahan menyampaikan dengan asertif namun orang ini makin menjadi, sehingga aku mengatakan bahwa kita ini harus punya mindset coba dulu (baca:hal positif), jangan sedikit-sedikit menyerah tanpa solusi. Proses awal untuk perubahan budaya kerja ataupun perubahan situasi kondisi tentunya hal yang wajar dan tidak perlu ditanggapi secara lebay. Banyak hal saya temui bahwa jika diawal sudah berpikir gagal maka ya hasilnya akan menarik ke arah serupa, hal ini sejalan dengan law of attraction.
Berjalan perlahan menjadi kunci agar kita dapat dengan jujur dan tenang tanpa tergesa untuk berproses baik dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Kesannya mungkin lambat bahkan tidak jarang ada yang menghakimi lelet, lambat bahkan lemah. Proses berjalan lambat sendiri bagiku membawa dampak positif dimana aku tidak tergesa dan lebih tenang dalam memutuskan segala sesuatu. Aku pribadi menyukai istilah sumbang saran alias diskusi sebelum memutuskan, namun ada pihak lain menganggap bahwa proses tersebut lambat dan sebagai pimpinan seringkali dianggap lambat. Hal ini awalnya menggangguku tetapi hari lepas hari semua semakin jelas bahwa aku berada dijalur yang benar karena aku tenang.
Keputusanku bulat bahwa ketenangan adalah kunci kedua dalam sebuah perjalanan. Aku membuktikan sendiri bahwa semakin aku tenang maka keluargaku semakin baik demikian dengan komunitasku sekalipun tetap ada masudi alias manusia sulit diatur. Hal tersebut wajar adanya namun tetap perlu diwaspadai agar kita tidak terhanyut di dalamnya. Seorang Bhante dalam ceramahnya mengatakan orang yang menjadi pemenang adalah orang tenang. Akupun tanpa panjang lebar hanya tertunduk tanda aku setuju sambil berkata dalam hati kok bisa pas ya.
Berjalan perlahan mengajarkanku untuk masuk ke dalam kejernihan bahkan keheningan dengan mengambil jeda di luar masalah hidup yang sedang dialami. Disana aku semakin sadar bahwa seringkali masalahku sepele dan hanya perlu disadari tanpa harus dinilai. Seringkali aku menekan bahkan menyalahkan diri dan juga orang lain padahal yang dibutuhkan apapun yang terjadi adalah penerimaan diri dengan sadar bahwa manusia makhluk biasa yang rapuh. Istilah self love cukup sering menjadi perbincangan dan hal ini ternyata ada hubungan dengan masalah yang sedang dihadapi. Respon kita seringkali berlebihan padahal yang dibutuhkan adalah sekali lagi menerima, memeluk diri kita bahwa kita adalah orang yang terlahir besar tanpa harus menyalahkan dan menilai apapun.
Kata proses menjadi kunci utama dalam menerapkan berjalan perlahan dengan penuh kesadaran dan eling. Selamat berproses temanku, kalian pasti bisa. Salam padmana-hati yang gembira.